Sudah sepatutnya kita risau akan kesungguhan cinta kita pada Allah, saat rupanya kita belum benar-benar mengenali-Nya. Jika benar kita ingin sampai pada cinta yang hakiki, sepatutnya kita bertanya pada diri, betulkah itu cinta jika seorang tidak mengenal Siapa yang dicintanya?
Apakah dalam panjangnya perjalanan di dunia ini, atas segala rasa dan pelajaran yang telah dilewati, kelak di akhirat kita dapat mengenal Allah? Sedangkan memandang wajah-Nya adalah harap-idam tertinggi setiap Muslim?[i] Bukan semata mengharap surga-Nya, tapi memandang-mengenal wajah-Nya itulah kebahagiaan tertinggi seorang Muslim!
Tapi begitu tulinya kita, begitu buta, begitu mati rasa, Tuhan yang lebih dekat dari ulu hati itu tiada dirasakan hadir-Nya! Pada setiap lalai mendhikirkan nama Allah, layakkah kita mengaku mencintai-Nya? Padahal Allah telah tebar dan semai segala isyarat dan alamat untuk membawa manusia kepada cinta-Nya di alam ini: apakah kita mampu meniti isyarat itu sampai pada Allah? Saat pada setiap isyarat bersemayam rahasia Pengungkapnya, dapatkah kita mengenali rahasia satu isyarat, kalau kita tiada mengenal Siapa yang mengirimnya? Ketahuilah bahwa setiap diri memiliki bahasanya tersendiri, dan hanya yang mengenali Allahlah yang layak memahami rahasia-Nya!
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ.[ii]
Apakah telah tertukar cinta ḥaqq itu dengan nafsu syahwat kita? Adakah hati ini telah mati, kosong, hampa tiada mencinta?
Allah telah tebar dan semai segala isyarat dan alamat untuk membawa manusia kepada cinta-Nya di alam ini: mampukah kita meniti isyarat itu sampai pada Allah?
Orang yang telah mengenal yang dicintainya akan tahu apa yang dimaksud pengungkap di balik segala isyarat. Dan isyarat-alamat Allah itu sungguh halus jua, yang mutashābih rupanya, menyimpan rahasia, seperti bukti seremeh nyamuk yang dapat mengantar seorang mukmin kian beriman sekaligus membawa orang kafir pada kegelapan.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ.[iii]
Sesungguhnya Allah tiada segan untuk memberikan bukti seremeh nyamuk atau bahkan lebih rendah darinya. Dalam hal ini, yang beriman akan tetap meyakini bahwa ia sesungguhnya ḥaqq dari Tuhannya. Sementara yang kufur mereka akan berkata, “Apa yang Allah inginkan dengan ciptaan-ciptaan ini?” Allah semakin sesatkan yang kufur dan terus hidayahi yang beriman. Dan tidaklah seorang itu disesatkan kecuali seorang fasik: yang memutus perjanjian azalinya dengan Allah dan memutus perintah Allah sehingga berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka inilah yang merugi jua.
[i] Hadis riwayat Abū ʻĪsā al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1996), 4: 313, no. 2553. Mengenai argumen kalam mungkinnya rukyat Allah di akhirat, lihat misalnya al-Bājūrī, Tuḥfat al-Murīd …, 191.
[ii] Surat Qāf (50): 16.
[iii] Surat al-Baqarah (2): 26.