Untuk para mahasiswa dan pegiat Islam di Surabaya, serta seluruh kalangan yang merindukan Kebenaran di seluruh Indonesia,
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى أهله وصحبه وبارك وسلم والحمد لله رب العالمين.
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله، ولو كره المشركون. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.
سنوريهم ءآيتنا في الأفاق وفي أنفسهم حتي يتبين لهم أنه الحق. صدق الله العظيم.
أما بعد،
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Sahabat-sahabat yang saya cintai, dalam perbincangan ini, izinkan saya mengangkat satu tema yang mendalam sifatnya, tentang Islam, ilmu, dan keadaan kebudayaan kita.[i] Yakni pembahasan mengenai keadaan diri kita sebagai seorang Muslim dalam masyarakat kita, dalam kehidupan bangsa dan bernegara, dan lebih utamanya dalam kehidupan beragama kita.
Dalam ruangan ini telah hadir para asātidh dan guru-guru kita yang sesungguhnya lebih layak untuk membawakan pembahasan seperti ini dengan terperinci. Merenungi diri yang daif ini, saya lebih ingin menggunakan kesempatan ini untuk bermuhasabah dan semoga ia membawa makna. Perenungan ini berkait erat dengan keadaan diri kita, keupayaan menghidupkan makna beragama yang sesungguhnya, yang mudah-mudahan mampu membawa kita sampai pada Allah.
Saya sering merenungi satu kalimat yang ditulis Aristoteles dalam buku ‘Metafisika’ mengenai satu kebenaran yang amat dahsyat. Kurang lebih terjemahannya adalah “Semua manusia mencintai dan menghendaki ilmu, dan buktinya adalah kesukaannya untuk menikmati rasa-rasa dan pengetahuan yang didapat melalui pancaindranya”.[ii] Demikianlah, manusia menyukai apa yang dikecap-rasa dengan lidahnya. Manusia menyukai apa yang dipandangnya. Manusia menyukai apa yang didengarnya. Manusia suka untuk bisa mendengar. Manusia suka untuk bisa melihat. Manusia, kita, menyukai untuk bisa mengetahui apa yang berada dan berlaku di sekitar kita.
Pernyataan yang sangat kuat tersebut memberikan bukti yang tidak terbantahkan: kita sesungguhnya tidak ingin terlepas dari kemampuan untuk mengindra ilmu. Bukan ilmu dalam arti ‘informasi besar’ yang dicari-cari dan dibaca-baca, melainkan ilmu sebagai segala hal yang kita tahu dan kita rasa. Telah ada di dalam diri, keinginan untuk terus mampu mengetahui dengan berpikir dan merasa.
Makna dari ‘semua manusia mencintai ilmu’ dari Aristoteles tersebut boleh membawa pada satu hikmah, sebelum adanya ilmu yang dicintai itu, telah ada kehendak untuk mencintai.Dan keinginan untuk mencintai itu terucap sebelum sesuatu yang dicintai ada. Dengan demikian, mengapa manusia mencintai? Sebab pada asalnya semua manusia ingin mencintai dan merasakan cinta atau dalam bahasa Islam—pandangan hidup Islam—cinta itulah yang menjadi asal-usul kewujudan kita, dasar eksistensial kita, al-Raḥmān al-Raḥīm.[iii]
Berawal dengan cinta kita dapat mengasihi. Berawal dari cinta Allah itulah Allah mengasihi. Karena cinta Allah pada kita itu pulalah kita bisa berada di sini. Karena cinta Allah kepada makhluk-Nya, Baginda Nabi ṣalla’Llāhu ʻalayhi wa sallam, Allah menciptakan segala hal ini. Allah bahkan menciptakan kerinduan kita atas apa yang kita cintai, bahkan sebelum kita mengetahui apa atau siapa yang dicinta itu!
Sebagaimana lahirnya seorang anak ke muka bumi ini, dari bagaimana dia ditumbuhkan, dirawat, dan dijaga oleh kedua orang tuanya, jalan hadir seorang anak dalam kewujudan ini adalah cara bagaimana cinta itu dapat dia rasakan dan kenali. Dirinya adalah cara bagi dia mengetahui apa artinya cinta dan kepada siapa dia mencari rasa cinta. Maka sesungguhnya, inilah yang telah kita miliki dan akui sebelum segala hal yang lain: kita ingin merasakan cinta. Dengan begitu, siapalah cinta yang lebih agung dan bertumpah-ruah, dibandingkan cinta-Nya yang tiada berbilang kepada seluruh makhluk-Nya? Yang menumbuhkan, merawat dan menjaga segala ciptaan-Nya?
Seorang anak akan merasakan kekosongan hidup tanpa cinta pada orang tuanya, sehingga patah hati dan tersungkur dalam cinta palsu nan fana. Ketahuilah bahwa sesungguhnya keinginan kita untuk mencintai orang tua, juga seperti keinginan kita untuk mencintai dan mengenali Tuhan yang memiliki nama Allah. Tidakkah Allah Ṣubḥānahu wa Taʻālā telah mengenalkan diri dan nama-Nya pada kita, agar kita mampu mencintai-Nya? Dan apa maknanya untuk mencintai Allah sebagai makhluk-Nya, sebagai hamba-Nya? Tidakkah kita ingin untuk mampu dan bersungguh-sungguh dalam mencintai Allah?
Terenung satu pertanyaan abadi yang senantiasa dicari oleh manusia: apa maknanya untuk hidup di dunia ini? Dalam dunia filsafat Barat terkini di abad ke-20, Martin Heidegger mengajak manusia untuk bertanya: apa makna kewujudan diri manusia di dunia? Bagi manusia yang tidak mengenali Tuhan, dia akan merasa bahwa dirinya terlempar ke dunia ini. Dia terlempar dan tiba-tiba matanya terbelalak dengan segala luka karena dunia yang tragis itu menjerat dirinya sehingga dia harus menciptakan makna hidupnya sendiri di dunia ini.[iv]
Kita seakan kebingungan mencari makna hidup, padahal Allah telah memberikan rahmat pada kita dengan mengutus Rasulullah untuk menyampaikan pesan: Allah mencintai kita, wujud kita ada maknanya. Kita tidak terlempar tanpa arti di dunia ini. Ada makna atas kehadiran kita di dunia ini, dalam merasakan suka dan duka, luka dan gembira, dan Allah ialah nama-Nya, yang memberi makna atas semua yang kita rasa.
[i] Apa yang saya maksud mengenai kebudayaan adalah maksud filosofisnya, sebagaimana diberi pengertian oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai “jumlah segala hasil dayacipta insan [kreatifitas, kekuatan berpikir untuk menghasilkan sesuatu, …] serta cara-cara menyesuaikan dirinya dengan keadaan dan kehidupannya.” Dalam pembahasan ini, maka makna Islam berkait dengan kebudayaan adalah sebagai sumber inspirasi dan penggerak bagi manusia untuk ‘bercermin’, melahirkan kebudayaannya dalam usaha untuk mengamalkan ajaran Islam. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), para. 22, 66; para. 26 dan 27, 76-77.
[ii] Dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, ia diterjemahkan seperti berikut “By nature, all men long to know. An indication is their delight in the senses. For these, quite apart from their utility, [their senses] are intrinsically delightful, and that through the eyes more than the others. For it is not only with a view to action but also when we have no intention to do anything that we choose, so to speak, sight rather than all the others. And the reason for this is that sight is the sense that especially produces cognition in us and reveals many distinguishing features of things.” Penggunaan dan pemaknaannya dalam pidato ini diterapkan secara longgar. Aristotle, The Metaphysics, terj. Hugh Lawson-Tancred (New York: Penguin Books, 1991), 4.
[iii] Al-Raḥmān dan al-Raḥīm berasal dari akar kata yang sama yakni raḥmah, dan secara umum berarti untuk mencintai. Secara khusus, ia dipahami masing-masing sebagai Yang Pengasih dan Yang Penyayang. Dalam pandangan alam Islam yang diambil dari khazanah taṣawwuf, kasih sayang Allah meliputi segala makhluk ciptaan-Nya dan menjadi sebab semua makhluk itu memiliki kewujudannya terberi dari Allah. Lihat Abū Ḥāmid al-Ghazzālī, al-Maqṣad al-Asnā fī Sharḥ al-Asmā’ al-Ḥusnā (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 2003), 62-63. Karena itu, istilah al-Raḥmān dalam filsafat Islam (taṣawwuf) dipahami sebagai asal-usul kewujudan segala makhluk ciptaan. Lihat juga dalam ʻAbd al-Razzāq al-Kashshānī, Muʻjam Iṣṭilāḥāt al-Ṣūfiyyah (Kairo: Dār al-Manār, 1992), 166.
[iv] Martin Heidegger, Being and Time: A Translation of Sein und Zeit, terj. Joan Stambaugh (Albany: State University of New York, 1996), 134-138, 298-301.