Science

Islam dan Ilmu sebagai Perkara Kebudayaan Bag. 3

Apabila kita ingin kembali pada agama kita, apakah kita mengenali Siapa yang menciptakan agama ini? Apakah kita dapat merasakan kehadiran Allah yang sesungguhnya teramat dekat dengan diri kita? Apakah di balik ramai perbuatan dan perkataan, pidato, pengajian, ceramah, dan faedah yang kita lontarkan atas nama Allah itu, Allah telah bersama dengan kita? Tidakkah gusar hati ini, apabila ternyata segala rasa pengenalan pada Allah itu ternyata tidak bersemayam dalam diri? Saat Allah tidak pernah meninggalkan makhluk-Nya, alam yang diciptakan-Nya, apakah kita tengah bersama-Nya atau justru kita yang meninggalkan Allah? Apakah kita mampu mengenali rasa sendu dalam hati tersebab hawa nafsu dan jauhnya kita dari Allah? Atau jangan-jangan kita sama sekali tidak merasakan kehadiran Allah? Sesungguhnya orang yang berilmu, orang yang mengenali, tidak sama dengan orang yang tidak mengenali!

Sudah sepatutnya kita risau akan kesungguhan cinta kita pada Allah, saat rupanya kita belum benar-benar mengenali-Nya. Jika benar kita ingin sampai pada cinta yang hakiki, sepatutnya kita bertanya pada diri, betulkah itu cinta jika seorang tidak mengenal Siapa yang dicintanya?

Apakah dalam panjangnya perjalanan di dunia ini, atas segala rasa dan pelajaran yang telah dilewati, kelak di akhirat kita dapat mengenal Allah? Sedangkan memandang wajah-Nya adalah harap-idam tertinggi setiap Muslim?[i] Bukan semata mengharap surga-Nya, tapi memandang-mengenal wajah-Nya itulah kebahagiaan tertinggi seorang Muslim!

Tapi begitu tulinya kita, begitu buta, begitu mati rasa, Tuhan yang lebih dekat dari ulu hati itu tiada dirasakan hadir-Nya! Pada setiap lalai mendhikirkan nama Allah, layakkah kita mengaku mencintai-Nya? Padahal Allah telah tebar dan semai segala isyarat dan alamat untuk membawa manusia kepada cinta-Nya di alam ini: apakah kita mampu meniti isyarat itu sampai pada Allah? Saat pada setiap isyarat bersemayam rahasia Pengungkapnya, dapatkah kita mengenali rahasia satu isyarat, kalau kita tiada mengenal Siapa yang mengirimnya? Ketahuilah bahwa setiap diri memiliki bahasanya tersendiri, dan hanya yang mengenali Allahlah yang layak memahami rahasia-Nya!

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ.[ii]

Apakah telah tertukar cinta ḥaqq itu dengan nafsu syahwat kita? Adakah hati ini telah mati, kosong, hampa tiada mencinta?

Allah telah tebar dan semai segala isyarat dan alamat untuk membawa manusia kepada cinta-Nya di alam ini: mampukah kita meniti isyarat itu sampai pada Allah?

Orang yang telah mengenal yang dicintainya akan tahu apa yang dimaksud pengungkap di balik segala isyarat. Dan isyarat-alamat Allah itu sungguh halus jua, yang mutashābih rupanya, menyimpan rahasia, seperti bukti seremeh nyamuk yang dapat mengantar seorang mukmin kian beriman sekaligus membawa orang kafir pada kegelapan.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ.[iii]

Sesungguhnya Allah tiada segan untuk memberikan bukti seremeh nyamuk atau bahkan lebih rendah darinya. Dalam hal ini, yang beriman akan tetap meyakini bahwa ia sesungguhnya ḥaqq dari Tuhannya. Sementara yang kufur mereka akan berkata, “Apa yang Allah inginkan dengan ciptaan-ciptaan ini?” Allah semakin sesatkan yang kufur dan terus hidayahi yang beriman. Dan tidaklah seorang itu disesatkan kecuali seorang fasik: yang memutus perjanjian azalinya dengan Allah dan memutus perintah Allah sehingga berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka inilah yang merugi jua.

Demikianlah benda yang sama, isyarat yang sama dari Allah kepada manusia dapat tertangkap berbeda bagi setiap manusia, baik yang cinta-kenal Allah maupun yang kufur-buta pada Allah. Segala isyarat alamat-Nya—meski saru nan kabur bahkan terkadang meluka dan membawa duka—bagi orang beriman akan dikenali ia sebagai ḥaqq dari Allah. Ini adalah cara untuk kita sampai pada hakikat yang Allah kehendaki. Segala isyarat alamat yang Allah kirimkan ini tiada yang sia-sia pada semayam maknanya! Sudah sehendaknya kita menyelami maksud hingga hakikat demi mengenal-Nya.


[i] Hadis riwayat Abū ʻĪsā al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1996), 4: 313, no. 2553. Mengenai argumen kalam mungkinnya rukyat Allah di akhirat, lihat misalnya al-Bājūrī, Tuḥfat al-Murīd …, 191.

[ii] Surat Qāf (50): 16.

[iii] Surat al-Baqarah (2): 26.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *